Kamis, 24 Februari 2011
Raihan_Senyum.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - Raihan_Senyum.mp3
Raihan_Senyum.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - <a href="http://www.4shared.com/audio/E9dK6FY7/Raihan_Senyum.html" target="_blank">Raihan_Senyum.mp3</a>
Jumat, 18 Februari 2011
Hari terus berlalu. Sesekali ia tidak akan pernah kemabli seperti apa yang kita inginkan.Dia akan selalu membawamu NEXT tanpa BACK dalam masa lalu.Lalu hati terus menjadi hampa. Tiada arah dan tiada tujuan. Hinanya bila mengenang semula 'dosa-dosa' yang telah ada di hati kita. Ingin memadamkannya tetapi terasa tiada siapa yang mau membantu....uuuugh sterzzzz duech...^_^
Langit yang biru terasa terlalu gelap untuk diri kita. Hati yang dahulunya putih berseri sudah dipenuhi dengan sawang-sawang 'peristiwa' yang lalu. Menangis- hanya itu yang mampu dilakukan...:(
Sebenarnya gak githu dech....... Tangisan itu bukan tangisan biasa. Tangisan itu yang mampu menyucikan semula sawang yang telah bersarang jauh disetiap genap penjuru. Tangisan itulah yang membuka semula pintu cahaya untuk meneroboz masuk dan menyinari semula hati yang telah 'menyesal' dan ingin 'kembali' ke pangkal jalan.
'Menyesal'.. Jika kita mengerti pengertian sucinya, pasti hatinya kembali tersenyum kerana dengan adanya MENYESAL dan TANGISAN, itulah tanda MASIH ADA YANG SAYANG.
Inget doonk kisah seorang pelacur yang masuk syurga karena memberi minum kepada seekor anjing yang kehausan....Allah ntu maha sayang kepda hamba-Nya...
Allah sentiasa bersama kita. Yang PENTING, jangan sesekali kita berputus asa dari mencari HIDAYAH Nya. Hidayah itu sentiasa ada dihadapan kita, cuma kita saja yang belum lagi membuka pintu-Nya. Carilah, usahalah, berdoalah kepadaNya, INSYAALLAH, hidayah itu semakin dekat.
Kita milikNya, dan kepadaNya tempat kita kembali. Kembalinya kita nanti kepadaNya, janganlah kita kembali dalam keadaan serba kekurangan, tetapi biarlah, diri kita berjumpa denganNya dengan keadaan yang bersiap sedia untuk menerima janji-janjiNya. Pada ketika itulah, rindu kita terbalas dengan berjumpa dengan Nya dan bergembira di suasana indah di SYURGA kelak. amin..
Allah sayang kita.. Adakah kita sudah kembali menyayangiNya?
edit by merah saga from hafizulfaiz...^^
Langit yang biru terasa terlalu gelap untuk diri kita. Hati yang dahulunya putih berseri sudah dipenuhi dengan sawang-sawang 'peristiwa' yang lalu. Menangis- hanya itu yang mampu dilakukan...:(
Sebenarnya gak githu dech....... Tangisan itu bukan tangisan biasa. Tangisan itu yang mampu menyucikan semula sawang yang telah bersarang jauh disetiap genap penjuru. Tangisan itulah yang membuka semula pintu cahaya untuk meneroboz masuk dan menyinari semula hati yang telah 'menyesal' dan ingin 'kembali' ke pangkal jalan.
'Menyesal'.. Jika kita mengerti pengertian sucinya, pasti hatinya kembali tersenyum kerana dengan adanya MENYESAL dan TANGISAN, itulah tanda MASIH ADA YANG SAYANG.
Inget doonk kisah seorang pelacur yang masuk syurga karena memberi minum kepada seekor anjing yang kehausan....Allah ntu maha sayang kepda hamba-Nya...
Allah sentiasa bersama kita. Yang PENTING, jangan sesekali kita berputus asa dari mencari HIDAYAH Nya. Hidayah itu sentiasa ada dihadapan kita, cuma kita saja yang belum lagi membuka pintu-Nya. Carilah, usahalah, berdoalah kepadaNya, INSYAALLAH, hidayah itu semakin dekat.
Kita milikNya, dan kepadaNya tempat kita kembali. Kembalinya kita nanti kepadaNya, janganlah kita kembali dalam keadaan serba kekurangan, tetapi biarlah, diri kita berjumpa denganNya dengan keadaan yang bersiap sedia untuk menerima janji-janjiNya. Pada ketika itulah, rindu kita terbalas dengan berjumpa dengan Nya dan bergembira di suasana indah di SYURGA kelak. amin..
Allah sayang kita.. Adakah kita sudah kembali menyayangiNya?
edit by merah saga from hafizulfaiz...^^
Sabtu, 12 Februari 2011
BIDADARI SURGA AINUL MARDIYAH
Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :
Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat
duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.”
Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.
Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu.
Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .”
“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.
Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …”
Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.
Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).
Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta
mereka dengan memberikan sorga untuk mereka”
Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat
duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.”
Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.
Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu.
Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .”
“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.
Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …”
Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.
Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).
Langganan:
Postingan (Atom)